Pergantian Tahun Baru 2020, Kualitas Udara Yogyakarta Memburuk
Kandungan karbon monoksida (CO) pada malam pergantian tahun baru 2020 pada hari kemarin meningkat atau memburuk di daerah kota istimewa Yogyakarta. Kualitas udara pada malam hari di Yogyakarta pada saat itu nyaris mencapai baku mutu.
Disebutkan dan dilihat dari data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) kandungan CO berdasarkan pengukuran alat Air Quality Measurement System (AQMS) udara di Kota Yogyakarta mengandung CO mencapai 26 ribu mikrogram/meter kubik pada saat tanggal 31 Desember 2019 malam hari.
Kepala UPT Laboratorium Pengujian Kualitas Lingkungan DLH Kota Yogyakarta, Sutomo menyebut, saat jam 23.00 wib, kadar CO tercatat 22 ribu mikrogram per meter kubik.
"Pas setengah 12 malam mencapai 26 ribu," kata Sutomo, Kamis (2/1/2020). Sementara, dijelaskan Sutomo, batas baku mutu adalah 30 ribu mikrogram/meter kubik.
Sedangkan, saat hari-hari biasa kandungan CO selalu di bawah 10 ribu mikrogram per meter kubik saja. Kemudian, disimpulkan pihaknya bahwa kondisi berlipatgandanya kadar CO di udara akibat peningkatan volume kendaraan.
Memang, Kota Yogyakarta menjadi salah satu destinasi wisata saat itu. Jalanan terpantau padat kendaraan bermotor jelang dan saat malam pergantian tahun.
"Kalau seperti tahun baru kemarin ya karena setiap volume kendaraan yang meningkat itu. Kami dari stasiun memantau lonjakannya di monoksida," ungkap Sutomo.
Kondisi udara macam ini agaknya cukup membahayakan bagi pengidap penyakit jantung maupun hipertensi. Walaupun belum menyentuh atau melampaui baku mutu, pekatnya kandungan di CO bisa memicu hal-hal yang tak diinginkan. Karena CO sendiri merupakan gas yang sifatnya sangat reaktif dan akan begitu cepat masuk ke hemoglobin (HB) kala seseorang terpapar olehnya.
"Darah kita kan ada HB-nya. Dia harusnya pasangannya dengan oksigen. Karena CO masuk, dikira oksigen. Ini bisa bikin keracunan. Jangka panjang yang rentan itu yang punya penyakit jantung," terang Sutomo.
Kasus seperti di atas sebenarnya bisa dicegah sedini mungkin. Salah satu kunci utamanya adalah dengan mengurangi kandungan CO di udara akibat meningkatnya jumlah kendaraan bermotor, utamanya saat musim liburan.
Alterntifnya, bisa diambil langkah aturan wajib menggunakan transportasi umum atau pembatasan kendaraan bermotor. "Bisa pola ganjil-genap atau 3 in 1," cetusnya.
Sumber: Akurat.co

Comments
Post a Comment