Tuduhan Pemerkosaan Membuat Ketua Parlemen Nepal Ditahan
Setelah seorang pegawai perempuan yang bekerja di parlemen Nepal menuduh mantang Ketua Parlemen Nepal, Krishna Bahadur Mahara sudah melakukan tindakan pemerkosaan. Mobil polisi tiba-tiba saja mendatangi kediaman Mahara dan pada akhirnya menahan dirinya pada Minggu (6/10) waktu setempat.
Pihak Kepolisian Nepal jua membawa dirinya ke tahanan setelah sudah mendapati perintah pengadilan distrik untuk menahan dirinya.
"Dia telah dibawa ke tahanan kemarin (Minggu) untuk investigasi kasus tersebut," ungkap juru bicara kepolisian Kathmandu, Shyam Lal Gyawali, dilansir Al Jazeera pada Senin (7/10).
Tuduhan yang dilayangkan oleh perempuan itu dielak oleh Mahara. Namun, anehnya dirinya mundur dari jabatan Ketua Parlemen pada minggu lalu setelah sang korban pemerkosaan atas dirinya memberikan rincian kejadian yang dialaminya pada media.
Mahara sendiri adalah anggota senior Partai Komunis dan juga mantan pemberintak Maoist.
Pemerintah Nepal mendapat tekanan publik terkait kasus tersebut. Dalam video wawancara yang dirilis hamrakura.com bulan lalu, wanita itu menyatakan Mahara mabuk saat tiba di rumah wanita tersebut pada 29 September.
Mahara dituduh membujuk wanita itu untuk minum alkohol sebelum melecehkannya. "Saya tidak menduga akan seperti ini. Dia memaksakan dirinya pada saya. Dia pergi setelah saya katakan saya akan memanggil polisi," ungkap wanita itu dalam wawancara.
Wanita itu menunjukkan memar di tangan dan kakinya.
Kepolisian menyatakan mereka datang ke rumah wanita itu pada malam yang sama tapi ia tidak mengajukan langsung kasus tersebut. "Para penyelidik mengumpulkan bukti termasuk satu botol whisky dan sepasang kacamata rusak yang diduga milik Mahara," papar kepolisian.
Meski demikian, wanita itu mencabut gugatannya pada pertengahan pekan lalu karena mendapat banyak ancaman dan tekanan. Dia kembali mengajukan gugatan resmi pada Jumat (4/10).
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan sejumlah kedutaan besar (kedubes) asing di Nepal mengeluarkan pernyataan bersama mendesak pemerintah bertindak tegas melawan kekerasan berbasis gender. Tekanan itu muncul tanpa menyebut secara khusus kasus Mahara.
"Seruan untuk semua otoritas negara terkait untuk mengirim pesan jelas nol toleransi pada semua bentuk kekerasan berbasis gender pada siapa pun dalam kondisi apapun," papar pernyataan PBB dan beberapa kedubes asing.
Sumber: Akurat.co

Comments
Post a Comment